Resume Sejarah PKI Madiun 1948, G30S PKI, dan DI/TII
Di tulisan kali ini saya Salmadita Cahya dari kelas XII IPS 4 akan membahas secara singkat tentang beberapa aksi pemberontakan yang pernah mengancam integrasi bangsa Indonesia. Terdapat tiga kasus ancaman disintegrasi bangsa yang akan saya bahas kali ini. Dua diantaranya merupakan kasus dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Saya akan membahas tiga pemberontakan besar tersebut sesuai dengan runtutan waktu terjadinya peristiwa. Tulisan ini juga saya gunakan sebagai sarana untuk menuntaskan tugas Sejarah Indonesia.
Mari saya ajak para pembaca untuk mundur ke tahun 1948, dimana terjadinya salah satu pemberontakan PKI yang terjadi di kampung halaman saya, di Madiun. Tokoh utama dalam pemberontakan ini ialah Musso dan Amir Syarifuddin. Pemberontakan ini sebetulnya merupakan hasil dari kekecewaan Amir Syarifuddin terhadap rakyat karena harus dipaksa mundur dari kedudukannya sebagai perdana menteri. Walaupun memang rakyat menyalahkan Amir atas hasil perjanjian Renville yang ia setujui.
Sebelumnya, akan saya jelaskan konteks sepak terjal PKI di Indonesia terlebih dahulu. PKI sebetulnya telah terbentuk pada 23 Mei 1914 dengan Henk Sneevliet sebagai pelopornya. Sebetulnya, PKI—yang sebelumnya dikenal sebagai ISDV dan PKH (Perserikatan Komunis di Hindia)—telah melakukan beberapa kongres dan secara aktif dan vokal menyebarkan ideologi dan pendapat mereka, serta sebelum tahun 1948, PKI pun pernah melakukan pemberontakan pada tahun 1926.
Di tahun 1948 ini nih, FDR dan PKI semacam berkoalisi (atau malah ditunggangi oleh PKI?). Banyak banget yang dilakukan FDR ini, seperti; menantang program ReRa oleh Kabinet Hatta, mengecam kepemimpinan Presiden Soearkano, melancarkan agitasi menyerang pemerintah, melakukan kekacauan di berbagai tempat, bahkan sampai menyabotase sektor ekonomi. Waktu terjadinya kudeta di Madiun itu, Musso dan Amir Syarifuddin sedang berada di Purwodadi. Akhirnya mereka pergi ke Madiun dan mengambil alih kudeta. Nah tindakan mereka inilah yang malah makin memperjelas bahwa pemberontakan ini didalangi oleh PKI.
Akhirnya Presiden Soekarno secara tegas bilang nih ke rakyat, “Pilih Soekarno-Hatta atau Musso-Amir?!” Akhirnya Soekarno memerintahkan Panglima Besar Soedirman buat menumpas seluruh pemberontakan PKI. Madiun akhirnya bisa diduduki oleh TNI setelah diserbu dari arah timur dan barat. Musso sudah mati tertembak di Somoroto, Ponorogo. Sedangkan Amir Syarifuddin tertangkap di daerah Grobogan. Namun, sebelum mereka sempat diadili, terjadilah kejadian Agresi Militer II Belanda. Beberapa tokoh-tokoh PKI ada yang ditembak mati tapi juga banyak yang berhasil meloloskan diri. Begitulah akhir dari pemberontakan PKI Madiun di 19 September 1948.
Selanjutnya, di tahun berikutnya yaitu 1949, terjadi pula pemberontakan yang dilakukan oleh DI/TII. Menariknya, pemberontakan ini juga terjadi karena hasil dari Perjanjian Renville. Karena salah satu butir dari perjanjian tersebut ialah pasukan TNI yang ada di wilayah Belanda harus ditarik ke wilayah RI, termasuk di Jawa Barat. Namun, ada beberapa laskar rakyat yang menolak perjanjian dan tetap tinggal di Jawa Barat.
Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo yang memimpin DI/TII di Jawa Barat. Ia memulai gerakan pertama saat Jawa Barat telah kosong akibat Perjanjian Renville. Nah, tapi para anggota Sabillilah dan Hizbullah ini tidak mau menaati perintah untuk hijrah ke wilayah RI. Akhirnya mereka bisa mengisi kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan TNI dan tidak bisa diisi oleh Belanda. Mereka akhirnya bergabung dan menamakan diri sebagai ‘Darul Islam’. Mereka pun memproklamasikan berdirinya ‘Negara Islam Indonesia’ pada 7 Agustus 1949.
Awal dimana akhirnya pemerintah melakukan operasi untuk menumpaskan gerombolan mereka ini adalah saat Agresi Militer Belanda II. Dimana DI bekerja sama dengan Belanda yang juga ingin merongrong kekuasaan pemerintah RI di berbagai daerah. DI/TII juga melakukan banyak teror terhadap rakyat Jawa Barat. Mereka merampok harta rakyat, terutama masyarakat yang hidup di pelosik pegunungan, demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Akhirnya kodam VI/Siliwangi melakukan operasi sistematis dan besar-besaran di tahun 1960. Operasi ini disebut sebagai operasi 'pagar betis". Dengan bantuan rakyat, akhirnya pada 1962 gerombolan DI/TII dapat dihancurkan. Kartosuwiryo sebagai pemimpin DI/TII ditangkap di daerah Gunung Geber, Majalaya, Bandung pada 4 Juni 1963.
Berikut ini adalah tabel singkat pemberontakan DI/TII di berbagai daerah:
Lalu kita maju ke bulan September di 1965. Dimana terjadi pembantaian beberapa Jenderal besar di Lubang Buaya. Hal ini berawal pada tahun 1951 D.N. Aidit menjadi ketua PKI. Ia dengan cepat membangun kembali kekuatan PKI pasca gerakan PKI Madiun 1948 kemarin gagal. PKI dan para pendukungnya mulai melancarkan gerakan 'aksi sepihak' pada akhir 1963 di Jawa, Bali, dan Sumatera Utara. Para kader PKI ini menghasut para petani untuk memgambil alih tanah penduduk, terutama yang memiliki tanah luas atau tanah perkebunan. PKI juga melakukan banyak kekerasan kepada para pemilik tanah, pegawai pemerintah, dan pengurus perkebunan. Tindakan kekerasan yang mereka lakukan ini dibalas oleh kelompok para anti-PKI dengan kekerasan juga.
Puncak ketegangan dan persaingan politik di kalangan pemimpin nasional itu terjadi di 30 September 1965. Seperti yang terjadi pada film yang sering kita tonton setiap tanggal 30 September setiap tahunnya. Pada malam itu, para perwira Angkatan Darat diculik dan dibunuh. Pada tengah malam di 1 Oktober 1965, Letkol Inf Untung dan diikuti oleh Sjam Kamaruzaman, Brigjen Soepardjo, dan Kolonel A. Latief. Ia memberikan perintah pelaksanaan kepada semua komandan pasukan agar segera berangkat menuju sasaran. Kelompok bersenjata ini bergerak meninggalkan daerah Lubang Buaya dan berhasil menculik 6 orang perwira tinggi Angkatan Darat. Diantaranya yaitu Ahmad Yani, Suprapto, Harjono Mas Tirtodarmo, Suwondo Parman, Donald Izacus Panjaitan, dan Sutoyo Siswomiharjo. A.H. Nasution yang saat itu menjabat sebagaienteri pertahanan dan keamanan berhasil lolos. Seluruh korban penculikan ini dibawa ke Lubang Buaya di daerah Jakarta Timur.
Berita tentang Gerakan 30 September ini menyebar pda keeseokan harinya yaitu pada 1 Oktober 1965 dan menimbulkan kebingungan dalam masyarakat. Akhirnya terbentuk lah pasukan RPKAD yang bertugas untuk menumpas PKI. Pada sore hari di 1 Oktober 1965, Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo diperintahkan merebut kembali kedua objek vital, yaitu studio RRI Jakarta dan Kantor Besar Telkom. Akhirnya banyak Jenderal besar PKI yang berhasil ditangkap. Namun sampai sekarang masih belum diketahui tempat D.N. Aidit dieksekusi.
Dalam tragedi ini banyak fakta objektif yang bersifat mutlak dan tidak bisa dipungkiri antara lain keterlibatan PKI; ambiguitas Soekarno; intrik dalam tubuh militer; serta kedekatan hubungan personal antara pelaku utama G30S dengan Mayjen Soeharto, Pangkostrad/Pangkopkamtib.
Tak dapat diabaikan juga bahwa G 30 S menjadi triggering factor bagi operasi paling efektif pembasmian sebuah ideologi di suatu negara.
Komentar
Posting Komentar