Soekarno vs Soeharto pada Awal Masa Peralihan Kekuasaan, Manakah yang lebih baik?
Hi all my fellow readers!
Dipostingan kali ini aku akan kembali mengangkat tema sejarah. Now let’s go back to the 60’s, dimana terjadinya peralihan ke orde yang terkenal banyak bagusnya namun juga banyak dosanya.
Orde Baru. Saya rasa para pembaca sekalian pastinya tidak asing dengan dua kata tersebut. Sebenarnya orde baru itu apa sih? Well, menurut KBBI, orde berarti sistem (pemerintahan dan sebagainya); peraturan (pemerintahan dan sebagainya); susunan; angkutan; Sedangkan orde baru merupakan tata pemerintahan dengan sistem baru di Indonesia, berlangsung sejak tanggal 11 Maret 1966 hingga 20 Mei 1998.
Namun ditulisan kali ini, saya hanya akan memaparkan opini saya pada tahun-tahun peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Masa peralihan ini terjadi pada sekitar tahun 1965-1968. Titik awal perpindahan kekuasaan ini menurut saya terjadi pada saat Soeharto berhasil menangkap para ‘pelaku’ G30S/PKI. Pada saat itu memang masyarakat membutuhkan sosok yang dapat diandalkan dan yang dapat memberi rasa nyaman.
Turunnya kepercayaan masyarakat kepada Soekarno karena tak kunjung membubarkan PKI. Akhirnya terjadilah demonstrasi mahasiswa, terdiri dari KAMI, KAPPA, KASI, KAWi, KABi (diingat yah organisasinya temen-temen, karena sempat masuk ke soal ujian masuk PTN). Tuntutan mereka disebut dengan Tri tuntutan rakyat, atau yang biasa disebut Tritura. Hanya tiga tuntutan, yaitu; bubarkan PKI, Retooling kabinet (tangkap menteri yang pro-PKI), dan Turunkan harga. Sekarang saya tanya kepada para pembaca sekalian, apakah Soekarno akan meng-handle Tritura dengan baik? Sorry to break it to you, but no. Malahan, menurut saya, he handles it in the worst way possible.
Soekarno merespon Tritura dengan membuat Kabinet 100 Menteri. Dengan dalih sebagai Kabinet Dwikora uang ‘disempurnakan’. Dude, really?????? 100 menteri??? Pemborosan. Satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan kebijakan ini. Kenapa? Saat itu Indonesia lagi hiperinflasi, sekitar 650%. Ya.. no wonder why tons of Indonesians wants him untuk turun jabatan. (Sylke Febrina Laurencino, Detikfinance, 2020)
Di masa-masa frustasi seperti itu, keluarlah seorang ‘pahlawan’, yaitu Pak Harto, si Bapak Pembangunan. Saat itu Pak Harto membuat banyak keinginan rakyat terkabulkan. Rakyat mau Bung Karno turun? nih Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Namun, menurut saya disini Soekarno dan Soeharto menginterpretasikannya berbeda. Soekarno memganggap Supersemar sebagai hal untuk mengendalikan dan mengamankan negara. Sedangkan Soeharto menganggap Supersemar merupakan bukti pemindahan kekuasaan Soekarno kepada Soeharto.(Sedikit konspirasi: Terdapat banyak versi saat kejadian penandatanganan Supersemar karena tidak ada yang pernah betul-betul tau apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Ada yang berkata kalau Soekarno ditodong senjata saat menandatangani dokumen Supersemar. Namun adapula yang berkata kalau Soekarno dengan senang hati menandatanganinya.
Oh iya, dokumen asli Supersemar juga tidak ada yang tahu dimana. Jadi, jika kalian ke museum pun, dokumen Supersemar disana sebetulnya dokumen palsu.)
Tahapan-tahapan Soeharto menjadi presiden pun memakan waktu sekitar kurang lebih 2 tahun.
Jadi terdapat beberapa TAP MPRS:
TAP MPRS No. 9/1966 : Pengukuhan Supersemar dan Soeharto mandataris MPRS.
TAP MPRS No. 33/1967 : Pencabutan kekuasaan Soekarno (Soekarno sempat mengajukan Pidato Nawaksara yang akhirnya ditolak oleh MPRS) dan Soeharto ‘menjabat’ Presiden
TAP MPRS No. 44/1968 : Soeharto secara resmi menjabat menjadi presiden Indonesia.
Para pembaca sekalian, saya harap kalian tidak bosan yah. Sedikit saya berikan opini saya—walaupun selama bercerita, sudah saya ungkapkan sedikit opini saya— tentang kondisi peralihan ini secara menyeluruh.
Mana sih yang lebih baik? Jika saya hidup masa itu, tentunya saya akan mendukung Soeharto 100%.
Segala kekacauan yang terjadi pada masyarakat, seakan dianggap sebelah mata oleh Soekarno yang malah asik berada di istana dengan para selirnya. Masyarakat yang pada saat itu tidak pernah tidur tenang karena merasa terancam setiap malamnya. Oh, dan terlebih pada kondisi ekonomi negeri ini saat itu. Soekarno terlalu sibuk dengan citra negeri ini—dan citra dirinya di muka dunia tentunya— sampai lupa bahwa rakyatnya membutuhkannya. Namun, kepemimpinan Soeharto yang berlangsung terlalu lama serta kebijakannya yang lebih otoriter juga dapat saya katakan tidak lebih baik daripada kepemimpinan Soekarno.
Hadirnya Soeharto sebagai pengambil kekuasaan pada saat itu memang dapat dikatakan hal yang tepat. Seperti saat kita sedang kelaparan setelah berpuasa seharian, lalu berbuka puasa dengan ayam goreng yang nikmat. Namun ayam tersebut masih tersisa dan digoreng ulang lagi untuk sebulan kedepan, bagaimana perasaan para pembaca sekalian? Bosan kan pasti dan lama kelamaan akan terasa tidak enak. Ya, itulah Orde Baru in a nutshell. Mungkin, di kesempatan berikutnya, saya akan sedikit menceritakan serta mengungkapkan sedikit opini saya tentang pemerintahan pada Orde Baru.
Terkadang sesekali terbayang olehku, bagaimana bila saat itu rakyat terlalu loyal kepada Soekarno? Bagaimana bila ternyata gagasan-gagasan Soeharto tidak diterima? Seperti apakah keadaan negara kita sekarang? Bilapun Soekarno tetap turun jabatan dan Ahmad Yani tetap menjadi presiden, bagaimana kah kondisi negeri kita sekarang? (Islahudin, Merdeka.com, 2013).
Terlalu banyak kemungkinan. There are Endless possibilities.
Sedikit pertanyaan bagi para pembaca: Menurut kalian, apa yang terjadi apabila saat itu Soekarno tetap memimpin? Setujukah kalian?
Semua sumber pengetahuan mengenai tulisan-tulisan ini:
1. Saya dapatkan dari penjelasan para pengajar bimbingan belajar lulusan jurusan sejarah.
2. Buku sejarah Indonesia.
3. Laurencino, Sylke Febrina. 2020. “Tahukah Kamu, Inflasi Indonesia Pernah 653,3%” https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5135410/tahukah-kamu-inflasi-indonesia-pernah-6533 diakses pada 3 November 2021.
4. Islahudin. 2013. “Soekarno Punya Rencana Tunjuk Ahmad Yani Jadi Penggantinya” https://www.merdeka.com/peristiwa/soekarno-punya-rencana-tunjuk-ahmad-yani-jadi-penggantinya.html diakses pada 4 November 2021.
Komentar
Posting Komentar