Tentang Perjuangan Melawan Bangsa Sendiri
Hi, my dear readers, bagi yang belum tahu nama saya Salmadita Cahya dari XII IPS 4. Jadi kali ini saya akhirnya menulis lagi untuk menganalisis materi tentang “Perjuangan Melawan Bangsa Sendiri” yang mana adalah tugas Sejarah Indonesia kali ini.
Apa sih sebenarnya maksud dari tema Perjuangan Melawan Bangsa Sendiri? Ingatkah kalian akan ucapan Ir. Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.” Mengutip dari artikel bobo.grid.id dijelaskan maksud dari ucapan tersebut adalah untuk ‘Mengingatkan rakyat tentang ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia setelah merdeka.’ Ancaman ini dapat berbentuk ancaman eksternal maupun internal. Internal inilah yang paling membahayakan negara kita. Ancaman disintegrasi yang muncul dari dalam negeri inilah yang sangat membahayakan. Karena mau tak mau kita harus saling berperang dengan saudara sebangsa. Hal inilah yang harus dan sangat penting untuk dihindari.
Ditulisan saya kali ini, akan difokuskan kepada ancaman dari sisi internal negara kita setelah kemerdekaan. Seperti yang sudah dibahas oleh Pak Wikka dipertemuan pertama kita Senin lalu yang membahas tentang PKI Madiun. Hal tersebut, menurut saya merupakan hasil dari rasa kekecewaan yang dirasakan oleh Pak Amir Syarifuddin akibat harus terpaksa mundur dari kursi perdana menteri. Perihal yang awalnya mungkin dianggap sepele bagi beberapa rakyat Indonesia, namun malah menjadi ancaman besar pada saat itu. Bisa terlihat kan, bagaimana hebatnya dampak dari orang yang merasa sakit hati dan kecewa terhadap rakyat Indonesia.
Mari kita kembali melihat mundur ke tahun 1948. Amir Syarifuddin akhirnya berbalik menjadi oposisi saat Kabinet Hatta dibuat. Ia membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) untuk menghimpun kekuatan di golongan kiri. FDR ini terdiri dari beberapa partai seperti PKI, Partai Sosialis, PBI, Sarbupri, dan Pesindo. FDR pun bertambah kuat saat akhirnya Musso (seorang tokoh PKI tahun 1926 dari Rusia) ikut bergabung. Secara singkat, terjadilah kudeta di Madiun dan mereka mengambil alih pimpinan serta secara resmi memproklamasikan Soviet Republik Indonesia. Tindakan inilah yang seakan memperjelas bahwa aksi mereka didalangi oleh PKI. Fast forward ke tanggal 30 September 1948, Madiun akhirnya telah diduduki oleh TNI. Sejumlah pimpinan pemberontak telah ditangkap di beberapa daerah. Musso mati tertembak di Somoroto, Ponorogo. Sedangkan Amir Syarifuddin tertangkap di daerah Branti, Grobogan.
Mungkin itulah sedikit kilas balik sejarah pemberontakan PKI. Seperti yang kita tahu, sejarah itu kan berulang. Pada masa kini pun, ternyata ancaman disintegrasi masih cukup besar di Indonesia. Menyoroti kasus GAM di Aceh pada 1976-2005 yang ingin memisahkan diri dari Indonesia. Timor Timur akhirnya memisahkan diri dari Indonesia pada 2002. Ada pula yang terbaru, Free Papua Movement pada akhir tahun lalu yang mengibarkan bendera Bintang Kejora di KJRI Australia. Jangan jauh-jauh kita bandingan dengan kasus berat tersebut, deh. Masyarakat kita sendiri pun masih sering menyebar hoax, fitnah, dan mengadu domba antar SARA. Apalagi di masa pandemi seperti ini, malah makin menjadi-jadi.
Hal ini cukup mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya terintregrasi. Masih perlu banyak hal yang harus dibenahi oleh pemerintah maupun masyarakat Indonesia sendiri dalam mencapai persatuan dan kesatuan. Banyak ketimpangan serta jurang yang cukup besar dalam fokus pemerintah terhadap daerah-daerah di Indonesia. Seakan-akan fokus pemerintah hanya di Pulau Jawa dan Sumatera saja. Pembangunan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua masih sangat jauh dari kata cukup. Hal inilah menjadi alasan kuat mengapa banyak masyarakat di daerah ujung Indonesia memilih untuk mendirikan negara sendiri. If I put myself in their shoes, saya pun mungkin akan mendukung pilihan mereka. Sebab, rasanya seperti mempunyai orangtua namun kita tidak pernah diurus. Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan di daerah sekitar ibukota. Daerah lain jadi terbengkalai. Saya tidak akan terkejut apabila suatu saat nanti ada daerah lain yang mengikuti gerakan Timor Timur untuk melepaskan diri. Jika pemerintah tetap lebih memfokuskan pembangunan di Pulau Jawa maupun Sumatera saja.
Namun ada hal yang menurut saya merupakan upaya cemerlang yang dilakukan oleh pemerintah pusat dalam memindahkan ibukota menjadi di Kalimantan Barat. Cepat atau lambat, pasti di daerah Kalimantan, Sulawesi, dan bahkan Papua akan mengalami pemerataan pembangunan dan mengalami kemajuan. Indonesia kan bukan hanya terdiri dari Pulau Jawa. Semua daerah di Indonesia harus diperhatikan dengan adil.
Apa sih yang harus dilakukan agar hal-hal disintegrasi tidak terjadi lagi?
Banyak. Namun, kuncinya adalah kita semua harus ikut serta dalam upaya tersebut. Untuk menyatukan, memajukan dan mensejahterakan Indonesia, banyak ‘pr’ yang harus diselesaikan bukan hanya oleh pemerintah namun juga masyarakat Indonesia sendiri. Hal kecil seperti tidak langsung percaya apabila menerima informasi dari manapun itu dan melakukan research lebih dalam tentang informasi tersebut saja sudah sangat cukup. Mungkin hanya segini saja yang bisa saya ungkapkan atas analisis saya terhadap materi Perjuangan Melawan Bangsa Sendiri.
Komentar
Posting Komentar